Jika Kucing Lenyap dari Dunia

Kalau saya ditanyai, apa buku novel Jepang terjemahan pertama yang dibaca, saya akan menjawab Jika Kucing Lenyap dari Dunia karya Genki Kawamura.

Novel dengan kover warna merah muda bergambar kucing di depannya, yang terlihat tebal, padahal aslinya tidak. Yes, buku ini memang terlihat tebal karena kerenggangan antar baris dan paragraf yang cukup lebar, tapi ini menjadi nilai plus karena bikin mata tidak jereng dan lelah.

Dalam imaji pertama saya sebelum membuka buku, saya menganggap Jika Kucing Lenyap dari Dunia berkisah tentang cerita keseharian dengan kucing sebagai metafora yang menggambarkan salah satu tokoh. Ternyata bukan. Kisah di dalamnya justru kisah fantasi. Ringan, tidak begitu muluk-muluk dan "kucing" adalah kucing.

Buku "Jika Kucing Lenyap dari Dunia"

Si Aku, sang tokoh utama, dan isi kepalanya yang penuh. Cerita yang maju mundur dengan kenangan-kenangan yang sangat mudah dinikmati dan menyentuh–dengan sebagian kisah yang cukup gelap. Pun yang dipikirkan oleh tokoh utama bukan hanya cuap-cuap, tapi juga menyangkut fenomena sosial. Favorit ketika membahas tentang manusia yang menuangkan terlalu banyak upaya pada "kegiatan dan objek" saat terkait dengan "makan" (hal. 29). Konteks membersamai fakta bahwa kucing menganggap makanan sebagai pakan, tak perlu memikirkan nilai di baliknya. Perkataan si Aku ini lah yang membuat impresi awal saya terhadap buku ini melambung hebat.

Jika Kucing Lenyap dari Dunia membawa testimoni-testimoni yang hampir serupa: hangat dan menyentuh. Saya berpikir, memang iya?. Dan setelah semakin membaca lebih dalam, banyak isu kepribadian dan kemanusiaan disampaikan mengiyakan testimoni-testimoni yang dimaksud.

Salah satu isu terkait itu yang menarik yakni pada penyebutan fenomena pengaruh teknologi terhadap manusia: sebuah barang bernama ponsel yang dahulu sama sekali tidak dibutuhkan tapi berbalik 180 derajat menjadi barang yang tak dapat dilepas dari kehidupan.

"Aku sungguh muak terhadap diriku yang dikendalikan oleh benda semacam itu. Semenjak kemunculannya, ponsel telah berhasil menguasai manusia hanya dalam 20 tahun. Barang yang pernah tidak dibutuhkan telah menguasai manusia hanya dalam 20 tahun dan kini tampak bagaikan barang yang harus ada." (hal. 52)

Tentu saja, bab terfavorit jatuh pada "jika jam lenyap dari dunia". "Waktu" itu diciptakan manusia yang membatasi gejala alam yang sudah ada sejak dahulu. Sehingga manusia menautkan diri ke dalam peraturan yang ia tempel di mana-mana. Bahkan di pergelangan tangannya sendiri (hal. 148-149). Sungguh filosofis sekaliiii …

Ia jenis novel yang sulit dilepas kecuali benar-benar sudah dibaca sampai selesai. Gaya bahasanya yang menarik (dua jempol untuk penerjemah, Ribeka Ota), sederhana, dan pemenggalan-pemenggalan cerita yang begitu pas.

Saya menyebutnya sederhana tetapi kuat. Rasa tegang yang disampaikan lewat cara sang tokoh yang berpikiran untuk menyelesaikan urusan sebelum mati. Tak terduga bukan? Judul berunsur kucing tapi nyatanya novel yang berurusan dengan kematian.

Buku ini memberi bayangan kepada saya, seorang Genki Kawamura yang mendekam di kamar, di balik meja dengan sorot lampu belajar. Ia menuliskan perenungan-perenungan mendalam yang kemudian tergambarkan pada sosok 'Aku'.

Saya membaca dan menyelesaikannya dalam beberapa hari pada waktu antara waktu sahur hingga azan subuh. Tepat saat situasi santai, tidak kaku, dan cocok dibaca waktu senggang sebagai hiburan tanpa perlu berpikir berat-berat.


Judul: Jika Kucing Lenyap dari Dunia

Penulis: Genki Kawamura

Penerjemah: Ribeta Okta

Penerbit: Penerbit BACA

Tebal halaman: 255

comments powered by Disqus