Olokan

orang sedang mengolok

Apa yang bikin kamu bersyukur banyak-banyak?

Banyak?

Tahunan lalu. Saat masih berbadan kecil, yang hanya sesekali menyapa 'hai' kepada beberapa teman, dan memaksakan diri untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler hanya karena ikut-ikutan, begitu marah ketika satu dua hal pada dirinya diolok sedemikian rupa.

Olokan itu serupa gembrot, tonggos, dan goblok. Khas tipikal anak SMP yang bergerombol di pojok lalu meneriakkan segala macam ejekan kepada "teman" lewat yang terlihat ringkih. Dari yang hanya celometan canda sampai rundungan serius.

Bagi terolok, pengaruhnya mirip seperti gunung berapi pada level siaga. Muntub muntub. Di ujung kepala terasa panas. Rasanya, ingin mengonfrontasi sesangar mungkin tapi, kok, otak membayangkan sisi realistis: tidak bisa. Ternyata daya sendiri tak sanggup keluar. Iya, melawan perundung memang tak semudah cuplikan-cuplikan dalam sinema heroik–seperti Peter yang mampu melawan Flash Thompson atau Eleven yang mematahkan Troy dan James Dante, sang perundung The Party.

Tapi, yaa, setiap manusia punya pengalaman-pengalamannya sendiri. Dan pengaruhnya terhadap masing-masing individu juga berbeda. Bagi kamu dan bagi saya, traumanya berbeda.

Hingga sampai remaja lalu menjadi dewasa.

Beruntung jika hidup mencapai fase tersebut (baca: tidak mati muda) sehingga ada kesempatan untuk mengambil lebih banyak hal dari sekitar. Dari segala macam masukan berupa obrolan, tontonan, dan bacaan, kita dapat menentukan apa yang masih relevan untuk diterima.

Termasuk olokan.

Sudah besar masih mengolok dan diolok? Tentu saja. Keduanya semacam koin. Kalau ada sebab, ada akibat. Kalau ada yang melakukan sesuatu, pasti ada yang terdampak, bukan?

Jika kamu pernah terolok berulang kali dari yang hanya guyonan sampai yang lumayan-cukup serius, pada masa berbeda, di lingkungan berbeda, ingat saja apa yang pernah kamu dengar beberapa minggu lalu, hari lalu, atau saat lalu, oleh orang terdekatmu.

Eh, tidak ada?

Baiklah, dari saya saja.

Yakni biarkan saja.

Saya sadar bahwa setiap orang, dengan masing-masing perasaan yang kompleks, mendefinisikan "olokan" secara berbeda-beda. Loh, lalu kenapa menggurui? Iya, saya paham. Namun, kembali saja pada prioritasmu kali ini. Olokan adalah angin lalu, pengolok tidak pernah benar-benar tahu kehidupan yang diolok.

Saya pernah beberapa kali dicap tidak laki dan cemen karena tak merokok dan tak bisa memancing ikan. Ketika dengan percaya diri saya bilang menyeruput bubuk Marimas dengan sedotan dan melahap kremesan mi instan langsung dari bungkus lebih enak daripada mengisap rokok serta merespon cap kedua dengan senyum berulang kali, mereka tahu bahwa olokan mereka tak penting.

Saya sadar, kasus saya tak dapat menjadi solusi umum–solusi untuk semua. Yang pasti, saya tidak mungkin menyarankanmu menendang pantat dan kepala pengolok dari belakang atau mengajak mereka duel di tengah lapangan, walau dalam kasus tertentu mungkin diperlukan 🤷‍♂️. Tapi saran baku dari saya: kalem dan tanggapi seperlunya, kalau memungkinkan pergi saja.

Kalau kepepet, tetaplah marah, tetaplah kesal, tetapi sewajarnya.

Lega karena mampu melakukannya? Bersyukurlah banyak-banyak!

[Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels]

comments powered by Disqus