Yang Terakhir dengan Inteligensi Embun Pagi

Akhirnya baca juga. Setelah lama menyelingi pikiran dengan buku lain, cerita lain, genre lain, saya kembali lagi ke serial Supernova. Kali ini sang judul terakhir: Inteligensi Embun Pagi (IEP). Yang secara mencolok mata menjadi judul paling tebal daripada judul Supernova yang lain.

Sampul buku "Inteligensi Embun Pagi"

Dari sejak judul kedua (Akar), satu hal yang tidak saya senangi dari proses membaca Supernova adalah pembukaannya yang super bikin pusing. Entah saat menampilkan tokoh, tempat, dan isi-isi obrolannya. Dengan refleks, otak berusaha mengaitkan awal dari buku yang sedang dibaca dengan akhir judul buku sebelumnya. Ditambah bahasa-bahasa asing yang kadang diselipkan dalam percakapan, puyeng bertambah. Termasuk saat adegan Gio berinteraksi dengan keluarga dan temannya. Ini bukan salah Supernova, sih, otak saya saja yang sering terburu-buru.

Oiya, belum lagi kalau ditambahkan dengan penjelasan kemampuan tokoh ala filsuf seperti yang dimiliki Diva. Ketika tingkat kesadaran semakin tinggi, semakin terbuka pula rahasia-rahasia. Hess …

Seiring berjalan, munculnya tokoh-tokoh pada judul sebelumnya seperti Bodhi dan Elektra membuat kepuyengan saya terobati, sekaligus bikin saya sadar ternyata saya kangen banget dengan gaya ceplas-ceplos Elektra. Kehadiran mereka juga membuat saya membayangkan adegan bertemunya tokoh-tokoh tokusatsu dalam satu episode atau yang kekinian bertemunya superhero Marvel di Avengers: End Game.

IEP begitu tebal sebanding dengan isinya yang juga beragam. Bahagia, sedih, haru, penuh kejutan, dan menegangkan. Suasana terakhir sering tergambar saat tokoh-tokoh masuk ke dunia Asko. Tegang karena tokoh tidak tahu sedang berada di mana, begitu pula pembacanya. Bayangan tempat dan penggambaran makhluk di dalamnya yang misteri dan penuh fantasi. Otakmu dipaksa menggambarkan imaji yang jujur saya pun sulit untuk melakukannya.

Membolak-balik perasaan dengan menyenangkan. Setelah cerita yang bikin otak berputar-putar, kikuk dan kehangatan muncul pada Zarah yang akhirnya akur dengan sang ibu. Begitu juga pengisahan relasi Zarah dengan Gio setelah Gio mulai melepaskan perempuan yang dikasihi sebelumnya. Hangat. Hangaat banget. Bagi orang yang sedang kasmaran dan tenang, kisah itu semakin membuat hatimu tidak mau ke mana-mana.

Bukan Supernova kalau tidak menyisipkan potongan perenungan. Dari sekian banyak deskripsi perasaan, saya paling menyukai ungkapan yang dibatin oleh Bodhi pada kepasrahannya terhadap kematian.

"Kamukah kematian? Aku sudah lama mencarimu." Rasa takut yang mengunci Bodhi berubah menjadi kepasrahan. "Habis aku." (hal. 66).

Bodhi akhirnya mati? Rahasia, dong.

Soal bab? Bab terfavorit adalah Tanda Cinta. Bab di akhiran yang menceritakan kisah pendek tokoh setelah melakukan petualangan besar. Tanda Cinta seperti adegan film saat masing-masing tokoh memperlihatkan aktivitasnya pasca melakukan misi penyelamatan dunia. Ya ketemu doi lah, ketemu keluarga lah, pamitan untuk melakukan misi selanjutnya, dan seterusnya.

Serupa naik roller coaster pula. Dari obrolan yang berat sampai ringan. Tujuh ratus halaman yang layak dinikmati. Sebagai pembaca Supernova, saya terpuaskan! Semua misteri yang diperlihatkan di judul-judul sebelumnya terkuak di sini.

Tentu saja, sebagai penutup serial, IEP menjadi yang paling favorit. Bukan tentang ceritanya saja, tetapi juga karena glosarium di halaman belakang. Ia menjelaskan istilah-istilah tak umum yang dipakai di dalam novel, dengan sebagiannya adalah alih bahasa istilah yang belum dimasukkan ke KBBI saat itu.

Apresiasi tinggi untuk bab Dari Penulis. Dan dua paragraf yang perlu disimpan lekat dalam pikiran.

Menulis memiliki dua sisi yang saling melengkapi dan nyaris mustahil melenyapkan salah satunya: perencanaan dan keluwesan, sistematis dan spontanitas, disiplin dan kebebasan. Demikianlah rangkaian wajah ganda proses menulis yang harus hadir untuk merampungkan sebuah karya.

Menulis memang tidak pernah merupakan proses satu sisi. Menulis adalah kerja sama. Kita bekerja sama dengan Ide yang telah memilih kita menjadi partnernya. Bahu-membahu, melalui kerja keras dan komitmen, inspirasi yang berwujud abstrak akhirnya menjadi konkret. Di pojok tempat saya menulis, saya tampak sendirian. Sesungguhnya saya tidak sendiri. Saya sedang berdansa dengan partner saya di alam abstrak.


Judul: Inteligensi Embun Pagi

Penulis: Dee Lestari

Penerbit: Penerbit Mizan Group

Tebal: 705 halaman

comments powered by Disqus