Tersuguhi 'Lemon Cake'

Suka sekali dengan prinsip untuk lebih sering membaca buku dengan konten beragam – tidak berusaha membatasi diri sendiri membaca satu dua jenis genre saja.

Termasuk kali ini. Saya baru saja menyelesaikan Lemon Cake. Buku yang terlihat tidak cocok dengan manusia seperti saya. Bahkan, saya yang membelinya pun tidak pernah berpikiran untuk membaca buku seperti ini. Aneh, kan?

Cuss aja lah.

Lemon Cake merupakan satu dari sedikit buku yang saya beli fresh from the oven. Maksudnya, buku yang benar-benar baru terbit, pun buku pertama dari penulisnya, Inge Agustin. Konten akun Twitter-nya yang berisi kontemplasi hidup, opini hidup lucu dan menohok, bikin saya tidak berpikir dua kali untuk memastikan dapat membaca buku mbak ini.

Sampul buku "Lemon Cake"

Kepala saya masih dalam gelombang normal ketika membaca awalan Lemon Cake. Lalu bergerak naik turun pada setiap bab. Terutama turun tenang saat membaca sekalimat pada bab pertama.

"Lima persen lagi, dan saya pun bisa memulai menyusun kebahagiaan sendiri lagi sepenuhnya."

Membaca halaman per halaman membuat saya lumayan membelalakkan mata sambil bilang hmm berulang kali, konteks buku ini ternyata begitu dalam. Ya, memang, buku ini berdasarkan tulisan-tulisan blog penulis, tapi karena saya hanya pernah sekali dua kali mengunjungi blog tersebut, saya jadi baru tahu konten lewat si buku. Tentang pergi, berpisah, masa lalu, luka, memaafkan, dan bagaimana topik tentang "rencana Tuhan" yang mindblowon.

Saya membayangkan penulis sedang duduk di teras atau balkon, menyilangkan kaki, menyeruput segelas kopi atau teh lalu membayangkan kenangan yang menyebalkan bukan main. Atau, duduk di depan komputer kantor, sambil kepikiran konsep "memaafkan seseorang sebelum orang tersebut meminta maaf" adalah hal keliru.

Tak hanya satu dua bab favorit, tapi saya sangat menyukai bab Seni Mengatakan Tidak. Inge Agustin menjabarkannya dengan lebih menarik.

No is a decisian, yes is a responsibility. (hal. 105)

Lemon Cake membawakan kesendirian dan perpisahan dengan gaya santai gabrus-gabrus. Buku yang cukup sederhana tetapi berisi. Begitu enak sebagai teman sendirian setelah patah hati.


Judul: Lemon Cake

Penulis: Inge Agustin

Penerbit: Buku Mojok

Tebal: x+204 halaman

comments powered by Disqus